Jakarta — Persaingan industri otomotif global memasuki babak baru. Inovasi kini tidak lagi bertumpu pada tenaga mesin atau desain, melainkan pada kecanggihan teknologi digital, kecerdasan buatan...
Jakarta — Persaingan industri otomotif global memasuki babak baru. Inovasi kini tidak lagi bertumpu pada tenaga mesin atau desain, melainkan pada kecanggihan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan kemampuan mengemudi otonom. Sejumlah pabrikan besar dunia berlomba menghadirkan mobil paling canggih, dengan pendekatan teknologi yang berbeda-beda.
Berdasarkan pengamatan analis otomotif internasional hingga 2025, Tesla masih dinilai sebagai mobil paling canggih secara teknologi inti, khususnya pada sistem perangkat lunak dan kecerdasan buatan. Tesla mengandalkan sistem Autopilot dan Full Self-Driving (FSD) yang terus berkembang melalui pembaruan perangkat lunak jarak jauh atau over-the-air update. Sistem ini belajar dari data perjalanan jutaan kendaraan Tesla di seluruh dunia.
Sementara itu, Mercedes-Benz unggul dari sisi integrasi teknologi dan legalitas otonomi. Melalui fitur Drive Pilot, Mercedes-Benz menjadi pabrikan pertama yang mengoperasikan kendaraan otonom Level 3 secara legal di beberapa negara. Pada level ini, pengemudi diperbolehkan melepas tangan dari kemudi dalam kondisi lalu lintas tertentu.
Ditambah sistem MBUX Hyperscreen, Mercedes-Benz disebut sebagai mobil paling canggih dari sisi kenyamanan dan kemewahan digital. Di jalur keselamatan, Volvo menempuh strategi berbeda. Model terbaru seperti EX90 dilengkapi sensor lidar, radar, kamera, serta superkomputer berbasis NVIDIA.
Fokus utama Volvo adalah keselamatan maksimal dan kesiapan menghadapi teknologi otonom penuh di masa depan. Sejumlah pengamat menyebut Volvo sebagai mobil paling canggih dalam aspek keamanan dan pencegahan kecelakaan. Sementara itu, BMW dan Audi menonjol dalam teknologi pendukung pengemudi, konektivitas, dan presisi berkendara.
BMW melalui sistem iDrive generasi terbaru dan Audi dengan augmented reality head-up display dinilai matang secara teknologi, meski masih konservatif dalam penerapan otonomi penuh. Dari Asia, BYD tampil sebagai pendatang yang mencuri perhatian. Pabrikan asal China ini menghadirkan fitur intelligent driving, parkir otomatis, dan sistem bantuan pengemudi canggih bahkan pada mobil dengan harga relatif terjangkau.
Perkembangan BYD dinilai paling agresif dan berpotensi mengubah peta persaingan global. Hingga kini, para analis menyimpulkan tidak ada satu pabrikan yang unggul mutlak di semua aspek. Tesla memimpin dalam kecerdasan buatan dan perangkat lunak, Mercedes-Benz unggul dalam otonomi legal dan kemewahan, Volvo terdepan dalam keselamatan, sementara BYD menjadi simbol percepatan teknologi dengan biaya lebih efisien.
Persaingan mobil paling canggih diperkirakan akan semakin sengit dalam beberapa tahun ke depan, seiring mobil berubah dari alat transportasi menjadi platform teknologi berbasis AI dan data. (Bud)

