Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

🌙 Ramadan di London: Dari Cahaya West End hingga Iftar Ribuan Warga, Simbol Islam yang Kian Diakui

🌙 Ramadan di London: Dari Cahaya West End hingga Iftar Ribuan Warga, Simbol Islam yang Kian Diakui
CaranoNews

🌙 Ramadan di London: Dari Cahaya West End hingga Iftar Ribuan Warga, Simbol Islam yang Kian Diakui

CARANO NEWS - LONDON. Ramadan di London bukan lagi sekadar momentum ibadah komunitas Muslim. Ia telah menjelma menjadi peristiwa kota - terlihat, dirayakan, dan diakui secara terbuka di ruang-ruang publik paling prestisius di ibu kota Inggris.

Tahun-tahun terakhir, perhatian publik tertuju pada pemasangan Ramadan Lights London di kawasan elite West End London, tepatnya di bentangan jalan antara Piccadilly Circus hingga Leicester Square. Lebih dari 30.000 lampu LED menghiasi langit-langit jalan dengan motif geometris Islami dan kalimat "Happy Ramadan". Bagi sebagian warga, ini hanya dekorasi.

Namun bagi komunitas Muslim, ini adalah simbol pengakuan. London menjadi salah satu kota besar di Eropa yang secara resmi memasang lampu Ramadan di pusat hiburan dan pariwisata kelas dunia - kawasan yang biasanya identik dengan pertunjukan teater, bioskop, dan destinasi belanja.

Iftar Terbuka: Ribuan Duduk Sejajar di Trafalgar Square Momentum Ramadan juga ditandai dengan kegiatan Open Iftar yang digelar di ruang publik ikonik seperti Trafalgar Square. Acara ini rutin diinisiasi oleh organisasi sosial Ramadan Tent Project, yang mengusung konsep buka puasa gratis untuk semua kalangan. Ribuan orang - Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, hingga warga tanpa afiliasi agama - duduk berdampingan menunggu azan magrib.

Pemandangan ini menjadi pesan kuat bahwa Ramadan di London tidak eksklusif, melainkan inklusif. Tidak hanya di pusat kota, open iftar juga digelar di kampus-kampus, museum, bahkan di sekitar stadion sepak bola. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana praktik keagamaan bertransformasi menjadi ruang dialog sosial.

Masjid dan Aktivitas Keagamaan

Di sisi spiritual, masjid-masjid besar seperti East London Mosque mencatat lonjakan jamaah selama Ramadan. Salat tarawih dipadati ribuan umat setiap malam, sementara kajian tafsir dan program sosial seperti pembagian makanan bagi tunawisma turut digalakkan. Kawasan dengan populasi Muslim tinggi seperti Whitechapel, Wembley, hingga Ealing berubah menjadi pusat aktivitas Ramadan.

Restoran halal memperpanjang jam operasional hingga dini hari, toko bahan makanan Timur Tengah ramai pembeli, dan suasana malam terasa hidup. Dari Ramadan ke Eid: Perayaan Kota Setelah Ramadan berakhir, perayaan berlanjut dengan "Eid in the Square" yang juga digelar di Trafalgar Square. Pemerintah kota London mendukung acara ini sebagai bagian dari kalender perayaan budaya resmi kota.

Panggung seni, pertunjukan musik, bazar kuliner, hingga aktivitas anak-anak digelar terbuka untuk umum. Perayaan ini menegaskan bahwa Islam di London bukan entitas pinggiran, tetapi bagian dari wajah kota modern. Refleksi untuk Indonesia Carano News menilai, dinamika Ramadan di London memberi pelajaran penting.

Di tengah meningkatnya polarisasi identitas di sejumlah negara Barat, pendekatan inklusif justru menjadi strategi sosial yang efektif. Keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai identitas kota global. Bagi Indonesia, yang kerap membanggakan toleransi sebagai nilai dasar bangsa, fenomena ini menjadi cermin: bahwa ruang publik yang ramah terhadap semua identitas agama adalah fondasi stabilitas sosial.

Ramadan di London bukan sekadar cahaya lampu di langit West End. Ia adalah representasi dialog peradaban - bahwa iman dan modernitas dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling menegasikan.(Rajo)