Berbagai persoalan yang dihadapi Sumatera Barat hari ini sejatinya bukan masalah baru. Banjir yang berulang, infrastruktur yang rapuh, ekonomi rakyat yang terseok, hingga minimnya lapangan kerja...
Berbagai persoalan yang dihadapi Sumatera Barat hari ini sejatinya bukan masalah baru. Banjir yang berulang, infrastruktur yang rapuh, ekonomi rakyat yang terseok, hingga minimnya lapangan kerja telah lama menjadi keluhan publik. Yang membuatnya kian mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa masalah-masalah ini terus berulang, sementara daerah lain—bahkan negara tetangga—mampu melompat lebih jauh dengan persoalan serupa.
Setiap musim hujan, banjir kembali menghantui. Aktivitas warga lumpuh, pasar terendam, dan kerugian ekonomi tak terhitung. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, persoalan curah hujan tinggi sejatinya bukan alasan.
Singapura, misalnya, juga menghadapi hujan ekstrem, namun memiliki sistem drainase terpadu, pengendalian tata ruang yang ketat, serta investasi serius pada infrastruktur bawah tanah. Di sana, banjir bukan peristiwa rutin, melainkan insiden langka. Malaysia menghadapi tantangan geografis dan cuaca yang tak jauh berbeda dengan Sumatera Barat.
Namun, perencanaan wilayah, pengelolaan sungai, serta konsistensi pembangunan infrastruktur membuat dampak banjir bisa ditekan. Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting: banjir bukan semata persoalan alam, melainkan cerminan kualitas kebijakan dan keberanian mengambil keputusan jangka panjang. Masuk ke persoalan infrastruktur jalan, kontras semakin terasa.
Di banyak wilayah Sumatera Barat, jalan rusak dan berlubang masih dianggap pemandangan biasa. Padahal di negara tetangga, infrastruktur diperlakukan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi. Jalan yang baik bukan hanya soal kenyamanan, tetapi tentang keselamatan, efisiensi distribusi barang, dan daya saing daerah.
Ketika infrastruktur dibiarkan rusak, sesungguhnya daerah sedang membiarkan ekonominya berjalan tertatih. Di sektor ekonomi rakyat, perbandingan juga menyentak. Negara-negara tetangga secara serius melindungi dan memberdayakan usaha kecil.
Pasar tradisional ditata, UMKM didampingi, dan akses pembiayaan diperluas. Sementara di Sumatera Barat, pedagang pasar masih berkutat dengan fasilitas seadanya, kebanjiran, dan sepinya pembeli. Kebijakan sering kali hadir dalam bentuk program jangka pendek, bukan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Persoalan lapangan kerja dan generasi muda menjadi alarm paling keras. Anak muda Sumatera Barat terus merantau karena daerah tak mampu menyediakan peluang kerja yang layak. Negara tetangga justru berlomba menciptakan kawasan industri, pusat inovasi, dan lapangan kerja berbasis pengetahuan.
Mereka memahami bahwa mempertahankan generasi muda adalah kunci masa depan. Sumatera Barat, sebaliknya, masih terjebak pada kebanggaan budaya merantau, tanpa cukup refleksi apakah daerah telah gagal menyediakan masa depan bagi warganya sendiri. Masalah-masalah ini diperparah oleh tata kelola pemerintahan yang dinilai lamban dan reaktif.
Ketika keluhan warga muncul, respons sering kali bersifat darurat dan jangka pendek. Bandingkan dengan negara tetangga yang menjadikan data, perencanaan, dan evaluasi sebagai dasar kebijakan. Di sana, kegagalan program menjadi bahan koreksi serius, bukan sekadar catatan pinggir.
Tajuk ini tidak hendak meromantisasi negara lain, tetapi mengingatkan bahwa Sumatera Barat tidak kekurangan sumber daya, yang kurang adalah keberanian untuk berubah. Perubahan itu menuntut visi jangka panjang, konsistensi kebijakan lintas pemerintahan, serta keberpihakan nyata pada rakyat. Tanpa itu, daerah ini akan terus berputar dalam lingkaran masalah yang sama, sementara tetangga melaju meninggalkan.
Sudah waktunya Sumatera Barat belajar, bukan sekadar membandingkan. Belajar bahwa banjir bisa dicegah, jalan rusak bisa diakhiri, ekonomi rakyat bisa dikuatkan, dan anak muda bisa ditahan untuk membangun kampung halaman. Jika tidak, publik akan terus bertanya: sampai kapan rakyat menunggu, sementara daerah lain sudah melangkah jauh ke depan?

