Padang - Ketimpangan minat dan anggaran pembinaan olahraga di Indonesia kian nyata. Di saat cabang olahraga populer seperti sepak bola dan bulu tangkis terus mendominasi perhatian publik dan sokongan...
Padang - Ketimpangan minat dan anggaran pembinaan olahraga di Indonesia kian nyata. Di saat cabang olahraga populer seperti sepak bola dan bulu tangkis terus mendominasi perhatian publik dan sokongan dana, sejumlah cabang olahraga lain justru berada dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan, tujuh cabang olahraga tercatat memiliki peminat sangat minim dan terancam mati suri.
Data keikutsertaan atlet dalam kejuaraan nasional, laporan KONI daerah, serta jumlah provinsi pembina menunjukkan rendahnya regenerasi atlet di sejumlah cabang olahraga tersebut. Minimnya fasilitas, mahalnya peralatan, dan kurangnya eksposur menjadi faktor utama. Cabang anggar, misalnya, diperkirakan hanya memiliki kurang dari 1.500 atlet aktif secara nasional.
Biaya perlengkapan yang bisa mencapai puluhan juta rupiah per atlet membuat olahraga ini sulit diakses masyarakat luas, khususnya di daerah. Nasib serupa dialami dayung. Meski kerap menyumbang medali di ajang nasional, olahraga ini hanya aktif di sekitar 20 provinsi, dengan jumlah atlet di tingkat kabupaten rata-rata tidak lebih dari 5 hingga 10 orang.
Sementara itu, baseball dan softball masih menjadi olahraga minor. Jumlah atlet nasional diperkirakan di bawah 2.000 orang, dengan kompetisi daerah yang tidak berkesinambungan, terutama di luar Pulau Jawa. Masalah fasilitas paling kentara terlihat pada hoki lapangan.
Hingga kini, Indonesia memiliki kurang dari 30 lapangan berstandar nasional, menyebabkan pembinaan hanya terpusat di daerah tertentu. Akibatnya, jumlah atlet aktif tercatat sekitar 1.200 orang. Pada cabang panahan tradisional, pembinaan bahkan nyaris stagnan.
Kurang dari 10 provinsi menjadikan cabang ini sebagai program rutin, berbeda jauh dengan panahan modern yang mulai diminati generasi muda. Di cabang wushu, nomor taolu atau seni jurus juga mengalami penurunan peminat. Pada ajang PON terakhir, jumlah atlet taolu tercatat 40 persen lebih sedikit dibandingkan nomor sanda yang bersifat tarung.
Ironisnya, sepak takraw yang merupakan olahraga khas Asia Tenggara juga kalah pamor. Data menunjukkan kurang dari seperempat kabupaten dan kota di Indonesia memiliki klub takraw aktif, dan sebagian besar hanya bergerak menjelang kejuaraan. Pengamat olahraga menilai, persoalan ini tidak lepas dari ketimpangan anggaran.
Lebih dari 60 persen dana pembinaan olahraga daerah terserap ke tiga cabang olahraga populer, sementara puluhan cabang lainnya harus berbagi sisa anggaran yang terbatas. Jika tidak ada kebijakan afirmatif, pemerataan fasilitas, serta pembinaan berkelanjutan sejak usia dini, sejumlah cabang olahraga tersebut dikhawatirkan hanya akan hidup saat event besar, lalu kembali tenggelam tanpa regenerasi atlet.

