Padang - Persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat (Sumbar) yang dijadwalkan berlangsung pada 2026 menuai sorotan. Meski Pemerintah Provinsi bersama KONI menyatakan kesiapan terus...
Padang - Persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat (Sumbar) yang dijadwalkan berlangsung pada 2026 menuai sorotan. Meski Pemerintah Provinsi bersama KONI menyatakan kesiapan terus berjalan, di lapangan muncul tanda tanya besar: apakah seluruh daerah benar-benar siap mengirimkan atlet secara maksimal? Secara formal, Porprov tetap dipromosikan sebagai ajang pembinaan atlet dan pemersatu olahraga daerah.
Namun realitas di sejumlah kabupaten dan kota menunjukkan persoalan lama kembali berulang-keterbatasan anggaran, minimnya pembinaan, hingga fasilitas olahraga yang belum layak. Beberapa daerah dilaporkan mulai melakukan seleksi ketat bukan berdasarkan prestasi, melainkan karena keterbatasan biaya. Bahkan, muncul kekhawatiran sebagian daerah hanya mengirim atlet sekadar memenuhi daftar hadir, bukan untuk bersaing secara serius. "Kalau anggaran tidak cukup, pembinaan jadi formalitas.
Atlet dikirim, tapi tanpa persiapan ideal," ungkap salah seorang pengurus cabang olahraga yang enggan disebutkan namanya. Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan serius antar daerah. Kabupaten dan kota dengan fiskal kuat relatif siap mengirim kontingen besar dengan target juara, sementara daerah dengan kemampuan keuangan terbatas terancam menjadi pelengkap kompetisi.
Porprov pun dikhawatirkan berubah menjadi arena dominasi segelintir daerah, bukan ajang pemerataan prestasi. Konsep tuan rumah bersama yang diusung Pemprov Sumbar juga dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan. Di satu sisi meringankan beban daerah, namun di sisi lain memunculkan masalah baru terkait kesiapan venue, standar fasilitas, dan koordinasi antar daerah penyelenggara.
Sorotan juga diarahkan pada peran KONI dan Dispora dalam memastikan Porprov berjalan sesuai tujuan. Hingga kini, publik belum melihat peta jalan pembinaan atlet yang jelas dan terukur pasca-Porprov. Tanpa evaluasi menyeluruh, Porprov berisiko hanya menjadi agenda rutin lima tahunan yang menghabiskan anggaran tanpa dampak signifikan terhadap prestasi olahraga Sumbar di tingkat nasional.
Pengamat olahraga menilai, jika persoalan ini tidak segera dibenahi, Porprov Sumbar hanya akan melahirkan juara seremonial. "Porprov seharusnya menjadi fondasi prestasi. Kalau daerah tidak siap kirim atlet dengan pembinaan layak, ini kegagalan sistemik," ujarnya. Menjelang pelaksanaan, pemerintah daerah dituntut lebih jujur dan terbuka soal kesiapan masing-masing.
Tanpa keberanian melakukan pembenahan struktural-mulai dari anggaran, pembinaan, hingga transparansi seleksi atlet-Porprov Sumbar terancam kehilangan makna sebagai ajang pembinaan olahraga daerah.

