Padang - Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, tetapi juga berdampak serius terhadap sektor pendidikan. Ratusan sekolah...
Sebagian Siswa Sekolah Bergilir
Padang - Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian material, tetapi juga berdampak serius terhadap sektor pendidikan.
Ratusan sekolah dilaporkan rusak, memaksa ribuan siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di lokasi sementara. Berdasarkan data pendataan pemerintah dan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sekitar 501 sekolah di Sumatera Barat mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor. Kerusakan tersebut mencakup jenjang PAUD, SD, SMP, hingga SMA, dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat.
Kerusakan sekolah tersebar di sejumlah daerah terdampak bencana, di antaranya Kabupaten Agam, Padang Pariaman, Kota Padang, Tanah Datar, Solok, Pasaman, Pasaman Barat, Padang Panjang, dan Pesisir Selatan.
Di beberapa wilayah, bangunan sekolah terendam lumpur, ruang kelas rusak, hingga fasilitas penunjang pendidikan tidak dapat digunakan. Siswa Belajar di Sekolah Darurat Meski ratusan sekolah terdampak, pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan. Sejumlah skema diterapkan agar hak pendidikan siswa tidak terhenti.
Untuk sekolah dengan kerusakan berat, siswa sementara belajar di sekolah darurat, termasuk menggunakan tenda belajar, ruang kelas milik sekolah terdekat, balai desa, serta fasilitas umum yang dinilai aman.
Di beberapa lokasi, pembelajaran juga dilakukan dengan sistem bergilir untuk menyesuaikan keterbatasan ruang. Sementara itu, sekolah yang mengalami kerusakan ringan hingga sedang mulai kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka setelah pembersihan lumpur dan perbaikan darurat dilakukan. Sekolah Sempat Diliburkan Di wilayah dengan dampak paling parah, seperti Kabupaten Agam, puluhan sekolah sempat diliburkan sementara karena kondisi bangunan yang tidak memungkinkan digunakan.
Pemerintah daerah menyatakan kebijakan peliburan dilakukan demi keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Fokus Pemulihan Pendidikan Pemerintah pusat dan daerah saat ini memprioritaskan pembersihan, rehabilitasi, dan perbaikan fasilitas pendidikan di wilayah terdampak. Selain perbaikan fisik bangunan, pemerintah juga menyiapkan dukungan logistik pendidikan, termasuk meja, kursi, dan perlengkapan belajar bagi sekolah darurat.
Dinas Pendidikan menyatakan pendataan kerusakan sekolah masih terus dilakukan, sehingga jumlah sekolah rusak dan kebutuhan pemulihan berpotensi bertambah seiring verifikasi lapangan. Bencana ini dinilai menjadi tantangan serius bagi sektor pendidikan di Sumatera Barat, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana pada fasilitas pendidikan yang berada di wilayah rawan banjir dan longsor. (Bud)

