Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Purbaya Yudhi Sadewa: Menteri Keuangan di Tengah Mesin Negara yang Ngebul

Purbaya Yudhi Sadewa: Menteri Keuangan di Tengah Mesin Negara yang Ngebul
CaranoNews

Purbaya Yudhi Sadewa: Menteri Keuangan di Tengah Mesin Negara yang Ngebul

Yogyakarta - Kata pertama yang terlintas ketika mendengar pengangkatan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan-bahkan belum genap setahun menjabat-bukanlah "optimisme", melainkan kasihan. Bukan karena kapasitasnya diragukan. Justru sebaliknya.

Kasihan karena ia seperti pilot yang diminta menerbangkan pesawat dengan mesin mulai ngebul, bahan bakar menipis, penumpang panik, dan seluruh sorot mata menuntut keajaiban dalam waktu singkat. Purbaya masuk ke kursi panas ketika defisit anggaran menganga, utang negara membesar, daya beli melemah, investasi melambat, dan rupiah terombang-ambing oleh badai geopolitik global yang nyaris mustahil dikendalikan sepenuhnya.

Di tengah situasi ini, ia ditunjuk sebagai "kasir negara" yang harus menjelaskan ke publik kenapa uang semakin seret. Sebagai teknokrat, Purbaya bukan pemain baru. Ia paham seluk-beluk Kementerian Keuangan, tahu di mana lubang-lubangnya, dan mengerti risiko kebijakan.

Namun pengetahuan teknis tak selalu cukup ketika kapal sudah bocor di banyak sisi. Di titik ini, pertanyaan paling krusial bukan soal kompetensi, melainkan timing. Kenapa sekarang?

Kenapa ketika situasi sudah sedemikian ruwet, barulah figur teknokrat ini didorong ke depan? Analogi yang paling mendekati adalah memanggil dokter bedah ketika pasien sudah kritis di ICU, bukan saat penyakitnya masih bisa dicegah dengan disiplin dan kebijakan sehat. Sejarah Indonesia pernah mencatat pola serupa.

B.J. Habibie naik ke tampuk kekuasaan di saat krisis moneter sudah telanjur meledak. Jika berhasil, pujian mengalir ke sistem.

Jika gagal, figur teknokrat menjadi sasaran empuk. Dalam politik, ini bukan hal baru. Lempar batu, sembunyi tangan.

Risiko Purbaya tidak kecil. Jika ekonomi tak segera membaik, menteri keuangan hampir selalu menjadi kambing hitam. Bukan sistem yang rapuh, bukan kebijakan masa lalu yang dampaknya baru terasa kini, melainkan sosok yang sedang berdiri di depan.

Masalahnya, ekspektasi publik sering kali tidak realistis. Ekonomi dituntut pulih dalam hitungan bulan. Harga turun, daya beli naik, lapangan kerja tercipta cepat.

Padahal ekonomi lebih mirip kapal tanker raksasa-untuk berbelok, ia butuh jarak dan waktu panjang. Tidak bisa berputar arah dalam semalam. Di sinilah dilema terbesar Purbaya: Apakah ia harus memilih kebijakan populis yang menyenangkan publik namun berisiko jangka panjang?

Atau bertahan pada prinsip ekonomi sehat yang tidak populer dan berpotensi menggerus dukungan politik? Pilihan yang sama-sama pahit. Sementara itu, kebijakan belanja besar seperti program MBG dengan anggaran puluhan triliun rupiah menimbulkan pertanyaan serius.

Apakah arah fiskal benar-benar berpihak pada fondasi jangka panjang-pendidikan, kesehatan, produktivitas-atau sekadar proyek politis yang ramai di permukaan namun mengorbankan sektor esensial? Sejarah mencatat, banyak menteri keuangan datang dengan harapan besar dan pergi dengan kekecewaan. Bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi karena sistem dan politik tidak memberi ruang bernapas.

Purbaya bukan Superman. Ia manusia biasa dengan kapasitas terbatas. Ia membutuhkan dukungan nyata presiden, kabinet, DPR, dan publik yang rasional.

Tanpa itu, ia hanya akan menjadi tameng kebijakan yang sejak awal tidak ia rancang. Yang paling penting: jangan jadikan Purbaya tumbal politik. Jangan hukum seorang teknokrat untuk dosa-dosa masa lalu yang bukan ia ciptakan, lalu menuntut keajaiban dengan waktu dan sumber daya yang terbatas.

Jika ekonomi Indonesia hari ini terasa berat, mungkin ini bukan sekadar ujian bagi satu menteri. Ini adalah konsekuensi dari salah urus yang menumpuk selama bertahun-tahun. Dan akan sangat tragis jika yang akhirnya disalahkan hanyalah orang yang datang paling akhir ke medan kebakaran. -

Sigit Raharjo

Yogyakarta, 12 Januari 2026

Carano News