Berasal dari unit pasukan khusus Cobra, Traoré memandang sumber daya alam bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan fondasi kemerdekaan nasional. Di bawah kepemimpinannya, kebijakan pertambangan...
Melawan Imperialisme dari Perut Bumi Afrika
CARANO NEWS - Di tengah gejolak politik dan keamanan Afrika Barat, nama Kapten Ibrahim Traoré mencuat sebagai simbol perlawanan baru terhadap imperialisme ekonomi.
Sejak menjabat sebagai Presiden sementara Burkina Faso pada September 2022, pemimpin muda kelahiran sekitar 1988 ini membawa agenda berani:
merebut kembali kedaulatan negara melalui pengelolaan emas, kekayaan alam utama Burkina Faso.
Berasal dari unit pasukan khusus Cobra, Traoré memandang sumber daya alam bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan fondasi kemerdekaan nasional.
Di bawah kepemimpinannya, kebijakan pertambangan Burkina Faso mengalami pergeseran tajam dari pola lama yang dianggap menguntungkan asing. Pemerintah Burkina Faso mulai menerapkan nasionalisasi strategis dengan mencabut izin sejumlah perusahaan tambang asing. Melalui kode pertambangan baru, porsi kepemilikan negara dalam proyek tambang emas dinaikkan dari 10 persen menjadi 15 persen, bahkan mencapai 50 persen pada proyek strategis.
Langkah ini menandai upaya negara menghentikan kebocoran keuntungan ke luar negeri. Tak hanya itu, Traoré juga mendorong hilirisasi industri emas. Burkina Faso kini membangun kilang emas nasional pertamanya, Marena Raffinor-BF-SA, yang diproyeksikan mampu memurnikan hingga 150 ton emas per tahun.
Kebijakan ini memutus praktik lama ekspor bahan mentah dan membuka peluang nilai tambah di dalam negeri. Dari sektor emas, Burkina Faso dilaporkan mampu menghimpun pendapatan hingga US$18 miliar selama masa kepemimpinan Traoré. Dana tersebut digunakan untuk memperkuat anggaran negara, mendukung kebutuhan keamanan, serta membiayai pembangunan infrastruktur publik yang selama ini minim sentuhan negara.
Langkah-langkah ini tentu memicu ketegangan dengan perusahaan Barat dan lembaga keuangan internasional. Namun Traoré tetap konsisten pada visinya. Baginya, emas bukan hanya sumber devisa, tetapi senjata politik untuk memutus ketergantungan struktural dan simbol kemandirian bangsa.
Bagi rakyat Burkina Faso, Ibrahim Traoré bukan sekadar pemimpin hasil kudeta militer. Ia dipandang sebagai figur yang berani menantang tatanan lama dan mengirim pesan keras: kekayaan bumi Afrika seharusnya kembali kepada rakyatnya, bukan terus mengalir ke luar negeri.

