Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

TREND "PELAKOR GEN Z 2026": ANTARA VIRAL, STIGMA, DAN NORMALISASI ORANG KETIGA

TREND "PELAKOR GEN Z 2026": ANTARA VIRAL, STIGMA, DAN NORMALISASI ORANG KETIGA
CaranoNews

TREND "PELAKOR GEN Z 2026": ANTARA VIRAL, STIGMA, DAN NORMALISASI ORANG KETIGA

JAKARTA - Istilah pelakor kembali naik ke permukaan di tahun 2026, kali ini dengan wajah baru: Gen Z. Media sosial dipenuhi konten pengakuan, sindiran halus, hingga pembelaan diri dari generasi muda yang terseret dalam relasi asmara segitiga. Fenomena ini bukan lagi sekadar gosip, tapi telah menjadi trend sosial yang membelah opini publik.

Berbeda dengan era sebelumnya, pelakor Gen Z tidak selalu tampil sembunyi-sembunyi. Sebagian justru muncul terbuka di TikTok, Instagram, hingga X, dengan narasi "tidak tahu status", "sama-sama dewasa", atau "cinta tidak bisa dipaksa". Narasi ini menuai reaksi keras dari netizen yang menilai terjadi normalisasi peran orang ketiga dalam hubungan.

📱 Media Sosial Jadi Panggung Utama

Konten bertema "aku bukan pelakor", "cerita dari sudut pandang orang ketiga", hingga "red flag pasangan orang" menjadi viral dan dikonsumsi jutaan penonton.

Algoritma media sosial mempercepat penyebaran cerita pribadi menjadi konsumsi publik, sekaligus mengubah konflik privat menjadi komoditas konten. Tak sedikit pula kreator yang memonetisasi pengalaman perselingkuhan dengan dalih edukasi hubungan, namun berujung pada glorifikasi drama asmara. 🧠 Antara Kebebasan Gen Z dan Krisis Etika Relasi Pengamat sosial menilai tren ini mencerminkan benturan nilai.

Di satu sisi, Gen Z dikenal menjunjung kebebasan, kejujuran emosional, dan penolakan terhadap hubungan toksik. Namun di sisi lain, empati terhadap pasangan sah sering terabaikan, dan kesetiaan dianggap fleksibel. Label pelakor sendiri menuai pro-kontra.

Sebagian menilai istilah ini seksis dan menyalahkan satu pihak, sementara pihak lain menegaskan bahwa istilah tersebut lahir dari luka sosial akibat pengkhianatan.

⚖️ Dampak Nyata: Dari Perundungan Digital hingga Kekerasan

Tak berhenti di ruang digital, tudingan pelakor kerap berujung pada perundungan massal, doxing, hingga konflik fisik.

Beberapa kasus menunjukkan bagaimana stigma sosial dapat memicu kekerasan, terutama ketika emosi publik ikut tersulut tanpa verifikasi fakta.

📌 Catatan Carano News

Fenomena pelakor Gen Z 2026 bukan sekadar soal asmara, melainkan cermin perubahan nilai, cara berelasi, dan dampak media sosial terhadap moral publik.

Di tengah kebebasan berekspresi, muncul pertanyaan besar: di mana batas antara kejujuran personal dan tanggung jawab sosial? Carano News mencatat, tanpa literasi emosional dan etika digital yang kuat, tren ini berpotensi meninggalkan luka kolektif - terutama bagi mereka yang terseret menjadi korban dalam drama yang diviralkan.