Rumah Makan Pak GOLE 1950: Menyambang Warisan Rasa 75 Tahun di Tengah Pergulatan Kota Padang
Rumah Makan Pak GOLE 1950: Menyambang Warisan Rasa 75 Tahun di Tengah Pergulatan Kota Padang PASAR GADANG, PADANG — Di antara hiruk-pikuk dan modernisasi kawasan Pasar Gadang, sebuah bangunan tua dengan aroma rempah khas menyengat dari balik dinding kayunya masih kokoh berdiri.
Itulah Rumah Makan Pak GOLE 1950, yang telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan kuliner Padang selama nyaris tiga perempat abad. Didirikan pada 1950 oleh Taharudin GOLE, atau yang akrab disapa Pak GOLE, rumah makan ini awalnya adalah sebuah lapau nasi (warung makan) sederhana. Lokasinya yang strategis di pinggiran Pasar Gadang—jantung perekonomian Padang sejak zaman kolonial—menjadikannya lebih dari sekadar tempat makan. "Tahun 1950-an, lapau Bapak ini jadi tempat berkumpulnya para pedagang, intelektual, bahkan pejuang.
Dari sini, berita dan gagasan menyebar bersama dengan piring-piring nasi kapau," kenang H. Ramli (70), generasi kedua penerus usaha, sambil menyusuri ruangan utama yang dinding kayunya gelap oleh sapuan waktu. Konsep Asli yang Tak Tergerus Zaman Rumah makan ini mempertahankan konsep pelayanan asli: pelanggan cukup duduk, dan berbagai lauk langsung disajikan di meja dengan sistem prasmanan ala Ampera — makan dari lauk yang tersedia hari itu.
Kepercayaan menjadi fondasi utamanya. Berdiri sejak era pasca-kemerdekaan, usaha kuliner ini telah melewati berbagai babak penting sejarah, mulai dari gejolak PRRI di Sumatera Barat, kebakaran besar Pasar Gadang tahun 1980-an, hingga transformasi Padang menjadi kota metropolitan.
Namun, melalui semua perubahan itu, esensinya tetap terjaga. "Renovasi hanya di bagian yang sudah lapuk. Tapi konsep bangunan, tata letak dapur, dan yang paling penting, cara masak, tetap sama," jelas Andry, cucu Pak GOLE yang kini ikut mengelola. Dapur mereka masih menggunakan tungku kayu dan kuali besar besi cor.
Bumbu diulek dengan batu giling, bukan diblender. Menurut Andry, api kayu dan kesabaran dalam mengaduk memberikan rasa dasar yang berbeda dan autentik. Menu Legenda yang Menjadi Memori Kolektif Menu andalan yang telah menjadi legenda turun-temurun antara lain Dendeng Lambok Lado Hijau, Rendang, Kalio Daging yang lembut, serta Sambal Lado Tanak yang gurih.
Banyak pelanggan setia, terutama generasi tua, menyebut cita rasa di sini sebagai "rasa Padang tempo doeloe"—rasa asli sebelum banyak rumah makan beradaptasi dengan selera yang lebih nasional. Pertahanan Warisan Rasa di Tengah Tantangan Modern Di usianya yang ke-75 tahun, tantangan tidaklah sedikit. Persaingan dengan rumah makan modern, pergeseran selera generasi baru, dan fluktuasi harga bahan baku adalah ujian sehari-hari.
Meski demikian, keluarga besar Pak GOLE memilih untuk tidak membuka cabang. Mereka memusatkan perhatian pada menjaga keaslian dan kualitas di satu tempat ini. "Ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah amanah," tegas H.
Ramli. "Orang tua saya meninggalkan warisan rasa. Tugas kami adalah menjaganya agar anak cucu di Padang tetap tahu, seperti apa nikmatnya gulai yang dimasak dengan benar, dengan waktu dan penghormatan pada bahan." Hari ini, Rumah Makan Pak GOLE 1950 Pasar Gadang berdiri dengan tenang penuh wibawa.
Ia adalah ruang waktu yang hidup. Setiap suapan di sana bukan hanya menyentuh lidah, tetapi juga mengajak imajinasi melintas ke era di mana Pasar Gadang adalah pusat dunia, dan di sebuah lapau sederhana, seorang bernama Pak GOLE memulai legenda rasa yang abadi.(Rajo)

