Mekah - Pagi hari di Kota Mekah selalu punya cara sendiri untuk menyambut para jamaah umrah. Saat matahari baru naik, udara terasa cukup sejuk-bahkan sedikit dingin-membuat langkah kaki terasa lebih...
Mekah - Pagi hari di Kota Mekah selalu punya cara sendiri untuk menyambut para jamaah umrah. Saat matahari baru naik, udara terasa cukup sejuk-bahkan sedikit dingin-membuat langkah kaki terasa lebih ringan. Angin tipis menyusup di sela-sela gedung tinggi yang berdiri rapat, membawa aroma khas kota suci yang tak pernah benar-benar tidur.
Di jalanan sekitar Masjidil Haram, aktivitas mulai menggeliat. Jamaah dari berbagai negara tampak berjalan perlahan, sebagian masih mengenakan pakaian ihram, sebagian lain mengenakan gamis dan abaya dengan wajah yang terlihat tenang. Suara langkah kaki bercampur dengan percakapan pelan, seolah semua orang sepakat menjaga ketenangan pagi.
Cuaca yang sejuk menjadi bonus tak terduga. Tidak terik, tidak menyengat. Matahari bersinar lembut, cukup memberi cahaya tanpa menguras tenaga.
Kondisi ini membuat perjalanan menuju masjid terasa lebih nyaman, terutama bagi jamaah lanjut usia. Beberapa pedagang kecil di pinggir jalan mulai membuka lapak, menjajakan air minum, tas, dan perlengkapan umrah-menambah warna pada suasana pagi. Gedung-gedung tinggi yang mengapit jalan menjadi saksi ribuan doa yang dibawa setiap orang.
Di tengah hiruk-pikuk kota, pagi di Mekah tetap menyimpan keteduhan tersendiri. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi hati untuk benar-benar hadir. Bagi jamaah umrah, pagi seperti ini bukan sekadar awal hari, tetapi momen untuk menata niat.
Melangkah dalam udara sejuk, di kota yang menjadi tujuan jutaan manusia, membuat setiap tarikan napas terasa bermakna.(yon)

