Di sore hari, ketika matahari mulai turun di ufuk Samudera Hindia, Kampung Purus sebenarnya menyimpan pemandangan yang jarang disadari orang. Perahu-perahu nelayan merapat satu per satu, membawa...
Di sore hari, ketika matahari mulai turun di ufuk Samudera Hindia, Kampung Purus sebenarnya menyimpan pemandangan yang jarang disadari orang. Perahu-perahu nelayan merapat satu per satu, membawa hasil laut segar ikan kembung, cakalang, tongkol, cumi, hingga kepiting. Semua itu datang langsung dari laut Padang.
Namun setelah diturunkan, sebagian besar hasil tangkapan itu justru pergi meninggalkan Purus, dibawa ke pasar atau ke kota lain, tanpa sempat memberi nilai tambah bagi kampung nelayan itu sendiri. Ironisnya, Padang adalah kota pesisir yang dikepung laut, tetapi belum memiliki kawasan kuliner seafood yang benar-benar hidup dan tertata. Wisatawan datang ke Pantai Padang dan Purus, menikmati ombak dan angin laut, lalu pulang tanpa pengalaman kuliner laut yang berkesan.
Di kota-kota lain, kampung nelayan justru disulap menjadi magnet wisata. Jimbaran di Bali, Losari di Makassar, atau Kedonganan menjadi contoh bagaimana laut tidak hanya indah, tapi juga menghidupi. Padahal, data pemerintah daerah menunjukkan produksi ikan Kota Padang mencapai puluhan ribu ton setiap tahun, mayoritas berasal dari perikanan tangkap.
Di saat yang sama, konsumsi ikan masyarakat Padang juga terus meningkat, menandakan pasar yang semakin besar. Sayangnya, potensi besar ini belum terhubung langsung dengan kampung nelayan seperti Purus. Nelayan tetap menjual mentah, sementara keuntungan besar dinikmati pihak lain di luar kawasan.
Di sinilah gagasan Kampung Kuliner Purus menemukan relevansinya. Letaknya yang berada tepat di jantung Pantai Padang menjadikan Purus lokasi yang nyaris sempurna. Jalur wisata sudah ada.
Pengunjung sudah datang setiap hari. Bahan baku laut bahkan mendarat langsung di bibir pantai. Yang belum ada hanyalah penataan dan visi untuk mengubahnya menjadi pusat kuliner laut.
Bayangkan deretan warung seafood di tepi pantai, asap ikan bakar mengepul, aroma kepiting saus Padang dan udang bakar menyatu dengan angin laut. Pengunjung bisa memilih ikan segar langsung dari nelayan, lalu menikmatinya sambil melihat matahari tenggelam. Model seperti ini bukan hal baru di dunia pariwisata, tetapi bagi Padang, ini bisa menjadi terobosan besar.
Dari sisi ekonomi, dampaknya tidak kecil. Jika ratusan pengunjung datang setiap hari dan membelanjakan uangnya di Purus, perputaran uang bulanan bisa mencapai miliaran rupiah. Uang itu tidak lagi keluar kampung, melainkan berputar di tangan nelayan, ibu-ibu pengolah makanan, anak muda yang bekerja sebagai pelayan, hingga pelaku UMKM di sekitar pantai.
Namun hingga kini, Purus masih berjalan dengan caranya sendiri-tanpa konsep kawasan, tanpa identitas kuliner, dan tanpa dukungan penataan yang serius. Kampung nelayan ini masih berdiri di tengah potensi besar yang belum digarap. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Purus bisa menjadi Kampung Kuliner, melainkan apakah Kota Padang mau mengubah wajah pesisirnya.
Jika laut sudah memberi segalanya, mungkin sudah saatnya kota ini benar-benar merayakan lautnya dimulai dari Purus.

