Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Periksa Diri Masih Menengah Atas atau Sudah Turun

Periksa Diri Masih Menengah Atas atau Sudah Turun
CaranoNews

Jakarta — Tekanan ekonomi yang terus meningkat membuat banyak masyarakat Indonesia, khususnya kelompok kelas menengah, mulai mempertanyakan posisi ekonomi mereka. Kenaikan harga kebutuhan pokok,...

Jakarta — Tekanan ekonomi yang terus meningkat membuat banyak masyarakat Indonesia, khususnya kelompok kelas menengah, mulai mempertanyakan posisi ekonomi mereka. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, kesehatan, hingga cicilan dinilai perlahan menggerus daya beli dan ketahanan finansial kelompok yang selama ini dianggap paling stabil. Pengamat ekonomi menyebut, penurunan posisi ekonomi tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Banyak keluarga masih tampak menjalani gaya hidup mapan, namun di balik itu arus kas rumah tangga mulai tertekan. “Yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan kondisi keuangan sebenarnya,” ujar seorang analis ekonomi.

Indikator Finansial Mulai Melemah Secara umum, kelas menengah atas ditandai dengan pendapatan stabil, tabungan memadai, serta kemampuan memenuhi kebutuhan tanpa tekanan utang. Namun saat ini, sejumlah indikator tersebut mulai melemah. Beberapa tanda yang kerap muncul antara lain penghasilan yang stagnan, sementara pengeluaran terus meningkat.

Tabungan dan dana darurat mulai digunakan untuk kebutuhan rutin, cicilan membesar, serta muncul ketergantungan pada utang konsumtif untuk menjaga standar hidup. Kondisi ini dinilai membuat sebagian masyarakat berada dalam situasi rentan turun kelas, meski secara sosial masih terlihat aman. Lonjakan Biaya Hidup Kenaikan biaya hidup disebut sebagai faktor utama tekanan kelas menengah.

Harga pangan, biaya sekolah, iuran kesehatan, hingga transportasi mengalami kenaikan yang lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan. Akibatnya, ruang fiskal rumah tangga semakin menyempit. Lembaga riset ekonomi mencatat, kelas menengah merupakan kelompok yang paling terdampak ketika terjadi perlambatan ekonomi, karena berada di posisi tengah: tidak menerima bantuan sosial, namun juga belum cukup kuat dari sisi aset.

Gaya Hidup dan Tekanan Sosial Selain faktor ekonomi makro, gaya hidup turut berperan besar. Banyak keluarga masih mempertahankan pola konsumsi lama demi citra sosial, meskipun kemampuan keuangan menurun. Tekanan sosial dan lingkungan mempercepat penggunaan utang untuk kebutuhan non-esensial.

Menurut pengamat keuangan, ketidakseimbangan antara pendapatan dan gaya hidup menjadi penyebab utama rapuhnya kondisi kelas menengah saat ini. Audit Keuangan Disarankan Sejumlah ahli menyarankan masyarakat melakukan audit keuangan pribadi secara berkala, mencakup penghasilan riil, beban cicilan, tabungan, serta kepemilikan aset produktif. Kemampuan bertahan tanpa penghasilan selama beberapa bulan dinilai menjadi salah satu indikator paling objektif untuk menilai posisi ekonomi seseorang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pergeseran kelas sosial dapat terjadi secara perlahan, tanpa disadari, di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.(Bud)