Jakarta — Industri mie di Indonesia, khususnya mie instan, terus menunjukkan kekuatan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan kompilasi data riset industri pangan dan laporan keuangan produsen, nilai...
Jakarta — Industri mie di Indonesia, khususnya mie instan, terus menunjukkan kekuatan ekonomi yang signifikan. Berdasarkan kompilasi data riset industri pangan dan laporan keuangan produsen, nilai pasar mie instan Indonesia diperkirakan telah menembus Rp100 triliun per tahun pada periode 2024–2025. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar mie instan terbesar di dunia dari sisi nilai dan volume konsumsi.
Tingginya nilai pasar sejalan dengan tingkat konsumsi nasional yang sangat besar. Indonesia tercatat sebagai konsumen mie instan terbesar kedua di dunia, dengan konsumsi sekitar 14–15 miliar porsi per tahun. Mie instan telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat, tidak hanya sebagai pangan darurat, tetapi juga menu harian lintas kelompok ekonomi.
Kontribusi Produsen Utama Salah satu penopang utama industri ini adalah Indofood CBP, produsen Indomie dan sejumlah merek mie instan lainnya. Pada 2023, penjualan mie instan perusahaan ini dilaporkan melampaui Rp50 triliun, menunjukkan besarnya kontribusi satu pemain besar terhadap total pasar nasional. Selain Indomie, pasar mie instan Indonesia juga diramaikan merek-merek lain seperti Mie Sedaap, Sarimi, Supermi, serta berbagai produk lokal yang bersaing di segmen harga ekonomis hingga premium.
Pendorong Besarnya Pasar Pengamat menilai besarnya pasar mie di Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain: Harga terjangkau dan stabil Distribusi merata hingga pelosok daerah Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan Inovasi rasa dan varian yang menyesuaikan selera lokal Di tengah tekanan ekonomi global, mie instan tetap menjadi pilihan pangan yang praktis dan terjangkau, sehingga permintaannya relatif stabil bahkan saat daya beli melemah.
Tantangan dan Arah Industri Meski bernilai besar, industri mie instan juga menghadapi tantangan, mulai dari isu kesehatan dan gizi, ketergantungan pada bahan baku impor seperti gandum, hingga fluktuasi harga energi dan logistik.
Menyikapi hal tersebut, produsen mulai mengembangkan produk mie rendah garam, rendah lemak, serta varian berbahan alternatif. Dengan konsumsi yang tinggi dan pasar domestik yang kuat, Indonesia diperkirakan akan tetap menjadi pasar strategis industri mie instan global, sekaligus pilar penting bagi ketahanan industri pangan nasional dalam beberapa tahun ke depan. (Bud)

