Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Pariwisata Terpuruk Pascabencana, Kunjungan Anjlok dan Pelaku Usaha Menjerit

Pariwisata Terpuruk Pascabencana, Kunjungan Anjlok dan Pelaku Usaha Menjerit
CaranoNews

PADANG - Sektor pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) masih terpuruk akibat rentetan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah sejak akhir 2025. Hingga awal 2026, pemulihan berjalan lambat, sementara...

PADANG - Sektor pariwisata Sumatera Barat (Sumbar) masih terpuruk akibat rentetan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah sejak akhir 2025. Hingga awal 2026, pemulihan berjalan lambat, sementara jumlah kunjungan wisatawan dilaporkan anjlok dan pelaku usaha pariwisata kian terhimpit tekanan ekonomi. Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga memukul kepercayaan wisatawan.

Sejumlah destinasi wisata alam unggulan terpaksa ditutup, sementara akses jalan menuju kawasan wisata belum sepenuhnya pulih. Dampaknya, arus wisatawan ke Sumbar mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode normal. "Kami sepi sejak bencana. Kunjungan turun drastis, bahkan saat libur akhir tahun," ungkap salah seorang pelaku usaha homestay di kawasan wisata Sumbar, Senin (-/-).

Kondisi tersebut turut tercermin dari tingkat hunian hotel yang merosot. Di sejumlah daerah tujuan wisata utama seperti Padang, Bukittinggi, dan Tanah Datar, okupansi hotel dilaporkan berada di bawah target. UMKM di sekitar objek wisata-mulai dari pedagang kuliner hingga penyedia jasa wisata-ikut terdampak, dengan penurunan omzet yang mencapai puluhan persen.

Ironisnya, sejumlah agenda pariwisata yang selama ini menjadi penggerak ekonomi lokal justru batal atau ditunda. Pemerintah daerah memilih memfokuskan anggaran pada penanganan pascabencana, sementara kalender event pariwisata praktis kosong di awal tahun. Pengamat pariwisata menilai kondisi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah.

Menurut mereka, lambannya pemulihan infrastruktur dan minimnya promosi pascabencana membuat citra pariwisata Sumbar terkesan tidak siap menerima kunjungan wisatawan. "Tanpa langkah cepat dan komunikasi publik yang kuat, Sumbar bisa kehilangan momentum.

Wisatawan akan memilih daerah lain yang dianggap lebih aman," kata seorang pengamat pariwisata di Padang. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyatakan sejumlah destinasi mulai dibuka kembali secara terbatas. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup tanpa strategi mitigasi bencana yang terintegrasi dan jaminan keselamatan wisatawan.

Jika kondisi ini berlarut, sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi daerah dikhawatirkan semakin terpuruk. Padahal, Sumatera Barat memiliki kekayaan alam dan budaya yang kuat. Tanpa langkah tegas dan cepat, potensi besar tersebut berisiko tergerus oleh krisis kepercayaan wisatawan.