Makkah - Suasana Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam beberapa pekan terakhir tampak berbeda. Ribuan jamaah umrah dan peziarah terlihat mengenakan jaket, sweater, dan syal tebal saat melaksanakan...
Makkah - Suasana Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dalam beberapa pekan terakhir tampak berbeda. Ribuan jamaah umrah dan peziarah terlihat mengenakan jaket, sweater, dan syal tebal saat melaksanakan ibadah, terutama pada waktu Subuh dan malam hari. Penyebabnya adalah musim dingin yang kini melanda Arab Saudi.
Meski dikenal sebagai negara gurun dengan suhu panas ekstrem, Arab Saudi justru mengalami penurunan suhu signifikan setiap akhir tahun. Di kota suci Makkah dan Madinah, suhu malam hari kini berada di kisaran 10-15 derajat Celsius, bahkan lebih dingin ketika angin gurun bertiup kencang. Bagi jamaah asal Indonesia yang terbiasa dengan suhu tropis, kondisi ini terasa sangat menusuk. "Siang hari masih hangat, tapi selepas Isya dan Subuh rasanya seperti berada di dataran tinggi.
Tanpa jaket, bisa menggigil," ujar Ahmad, jamaah asal Padang yang tengah melaksanakan umrah. Fenomena ini membuat pemandangan di pelataran Masjidil Haram menjadi unik. Banyak jamaah pria yang sedang berihram menyiasati cuaca dingin dengan menyelimuti tubuh menggunakan kain tebal atau syal, sementara jamaah perempuan bebas mengenakan jaket dan mantel hangat.
Di area sekitar masjid, pedagang juga kebanjiran pembeli jaket, kupluk, hingga sarung tebal. Menurut pembimbing ibadah umrah, cuaca dingin justru menjadi tantangan tersendiri bagi jamaah lanjut usia. "Angin malam di pelataran masjid sangat dingin. Jamaah yang tidak siap bisa mudah batuk, flu, bahkan drop stamina," katanya.
Musim dingin di Arab Saudi biasanya berlangsung dari Desember hingga Februari. Pada periode ini, ibadah malam dan shalat Subuh menjadi momen paling dingin, karena suhu berada di titik terendah menjelang fajar. Meski demikian, suasana dingin ini tidak mengurangi kekhusyukan jamaah.
Ribuan orang tetap memadati Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, beribadah dalam balutan jaket dan selimut, membuktikan bahwa cuaca ekstrem tak menghalangi semangat beribadah di Tanah Suci.

