Padang — Gaya hidup masyarakat Padang mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan kota, pertumbuhan ekonomi kreatif, serta dominasi generasi muda mendorong lahirnya...
Padang — Gaya hidup masyarakat Padang mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan kota, pertumbuhan ekonomi kreatif, serta dominasi generasi muda mendorong lahirnya pola hidup baru yang memadukan nilai adat Minangkabau dengan tren urban modern. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Padang saat ini mencapai sekitar 940 ribu jiwa, dengan komposisi usia produktif (15–39 tahun) lebih dari 45 persen.
Kondisi ini menjadikan anak muda sebagai motor utama perubahan lifestyle di kota ini. Salah satu tren paling menonjol adalah menguatnya halal lifestyle. Padang sebagai kota religius menunjukkan pertumbuhan pesat usaha kuliner dan fashion halal.
Data Dinas Koperasi dan UMKM Kota Padang mencatat, hingga 2024 terdapat lebih dari 38 ribu UMKM aktif, dan sekitar 70 persen bergerak di sektor kuliner dan ekonomi kreatif berbasis halal. Kedai kopi, rumah makan, hingga usaha rumahan kini berlomba menonjolkan konsep halal, higienis, dan ramah keluarga. Fenomena nongkrong di kafe juga menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup anak muda Padang.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah kafe dan coffee shop meningkat tajam, terutama di kawasan pusat kota, Pantai Padang, dan Kecamatan Padang Barat. Pelaku usaha menyebut, sebagian besar pengunjung berasal dari kalangan mahasiswa, pekerja muda, dan komunitas kreatif yang memanfaatkan kafe sebagai ruang diskusi, kerja lepas, hingga aktivitas seni. Di sektor kuliner, masakan Minangkabau tetap menjadi identitas utama.
Namun, inovasi terus bermunculan. Data Dinas Pariwisata menunjukkan, sektor kuliner menyumbang lebih dari 50 persen perputaran ekonomi pariwisata Kota Padang. Street food kekinian, dessert modern, hingga olahan tradisional dengan kemasan kontemporer kini ramai diburu, terutama oleh generasi muda dan wisatawan domestik.
Perkembangan fashion lokal juga kian terasa. Busana muslim modern, produk tenun dan bordir Minangkabau, serta aksesoris berbasis budaya daerah mulai mendapat tempat di pasar lokal dan nasional. Event fashion dan bazar UMKM rutin digelar sebagai ruang promosi produk lokal, sekaligus mendorong kebanggaan terhadap karya daerah.
Selain konsumtif, gaya hidup sehat dan aktif mulai tumbuh. Kawasan Pantai Padang, GOR, dan ruang terbuka publik ramai dimanfaatkan warga untuk jogging, bersepeda, dan olahraga komunitas, terutama pada pagi dan akhir pekan. Tren ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan pasca pandemi.
Di sisi lain, literasi finansial anak muda Padang juga menunjukkan peningkatan. Tren menabung emas, usaha kecil berbasis digital, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana bisnis semakin populer. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Barat mencatat adanya pertumbuhan jumlah investor ritel muda dan pelaku UMKM digital dalam dua tahun terakhir.
Pengamat sosial menilai, perubahan lifestyle warga Padang mencerminkan proses adaptasi terhadap modernisasi tanpa meninggalkan akar budaya. Nilai adat, agama, dan kebersamaan masih menjadi fondasi, sementara kreativitas dan inovasi menjadi penggerak utama. Perubahan gaya hidup ini dinilai sebagai peluang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata kota.
Namun, tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya, agar identitas Padang tetap terjaga di tengah derasnya arus perubahan zaman. (Bud)

