Bukittinggi, Sumatera Barat — Libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi ujian sekaligus pembuktian bagi sektor pariwisata Bukittinggi. Di tengah lesunya kunjungan ke sejumlah daerah wisata...
Bukittinggi, Sumatera Barat — Libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi ujian sekaligus pembuktian bagi sektor pariwisata Bukittinggi. Di tengah lesunya kunjungan ke sejumlah daerah wisata lain, Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) justru menjelma sebagai episentrum keramaian wisatawan. Sejak pertengahan Desember 2025, arus pengunjung terus mengalir tanpa jeda.
Puncak kepadatan terjadi pada periode Natal hingga awal Januari, dengan antrean panjang di pintu masuk dan area parkir yang nyaris penuh sejak pagi hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa TMSBK masih menjadi pilihan utama wisata keluarga di Sumatera Barat saat musim liburan. Mayoritas pengunjung merupakan keluarga dengan anak-anak yang memilih TMSBK karena memadukan rekreasi dan edukasi.
Koleksi satwa, ruang terbuka hijau, serta suasana sejuk kawasan pusat kota menjadi daya tarik utama. Bagi wisatawan, kebun binatang ini dinilai sebagai destinasi “aman, ramah anak, dan tidak menguras biaya,” di tengah melonjaknya harga wisata alternatif selama libur panjang. Lonjakan pengunjung ini juga tidak lepas dari kebijakan dan pengelolaan yang lebih adaptif.
Pengelola TMSBK menambah jam operasional, memperbanyak petugas lapangan, serta memperketat pengawasan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung. Langkah tersebut terbukti mampu mencegah penumpukan berlebihan di titik-titik rawan. Efek domino dari ramainya TMSBK terasa kuat di sektor ekonomi lokal.
Pedagang makanan, minuman, hingga suvenir di sekitar kawasan wisata mengaku omzet meningkat drastis—bahkan sebagian menyebut kenaikan mencapai puluhan persen dibandingkan hari biasa. Libur Nataru kembali menjadi “musim panen” bagi pelaku usaha kecil di sekitar kebun binatang. Meski data resmi jumlah kunjungan belum dirilis, pola tahunan kembali terulang: setiap libur Natal dan Tahun Baru, TMSBK selalu menjadi destinasi dengan tingkat kunjungan tertinggi di Bukittinggi.
Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa wisata berbasis keluarga dan edukasi masih menjadi tulang punggung pariwisata daerah. Lonjakan Nataru 2025/2026 memberi pesan jelas bagi pemerintah daerah: TMSBK bukan sekadar kebun binatang, melainkan aset strategis pariwisata dan ekonomi rakyat. Tantangannya ke depan bukan lagi soal menarik pengunjung, melainkan memastikan kualitas layanan, kesejahteraan satwa, serta keberlanjutan pengelolaan agar daya tarik ini tidak hanya ramai musiman, tetapi kuat sepanjang tahun. (Rajo)

