Maninjau — Bencana galodo atau banjir bandang kembali melanda kawasan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (hari ini), setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pagi...
Maninjau — Bencana galodo atau banjir bandang kembali melanda kawasan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Kamis (hari ini), setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hingga siang hari.
Debit air sungai yang meningkat drastis membawa material lumpur, batu, dan kayu, lalu meluap ke permukiman warga. Sejumlah jorong di sekitar Maninjau dilaporkan terdampak cukup parah. Air bercampur lumpur masuk ke rumah warga, merendam perabot, dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Warga yang berada di bantaran sungai terpaksa menyelamatkan barang-barang seadanya ketika arus deras datang secara tiba-tiba. Selain merendam permukiman, galodo juga menyebabkan akses jalan utama Lubuk Basung–Bukittinggi terganggu. Material lumpur dan bebatuan menutup sebagian badan jalan, mengakibatkan arus lalu lintas tersendat dan sempat terhenti.
Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas hingga proses pembersihan dilakukan. Pemerintah kecamatan bersama aparat nagari, BPBD, dan unsur TNI–Polri langsung turun ke lokasi untuk melakukan pendataan serta membantu warga terdampak. Alat berat dikerahkan guna membersihkan material banjir dari badan jalan dan lingkungan permukiman.
Hingga sore hari, petugas masih bekerja membuka akses jalan agar kembali bisa dilalui. Camat Tanjung Raya menyebutkan, hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian materi diperkirakan cukup besar. Puluhan rumah warga terdampak lumpur, sementara lahan pertanian di sekitar aliran sungai juga ikut terendam.
Pendataan masih terus dilakukan untuk mengetahui jumlah pasti kerusakan. Warga Maninjau mengaku bencana galodo bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan deras dengan durasi cukup lama, kawasan ini selalu berada dalam ancaman banjir bandang.
Kondisi daerah tangkapan air di perbukitan sekitar Danau Maninjau serta sedimentasi sungai diduga menjadi faktor utama yang memperparah luapan air. “Kalau hujan deras, kami selalu was-was. Air datang cepat, membawa lumpur dan kayu dari atas,” ujar salah seorang warga yang rumahnya terdampak. Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi galodo susulan, mengingat curah hujan di wilayah Sumatera Barat masih tergolong tinggi.
Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dan lereng perbukitan diminta segera mengungsi ke tempat aman jika hujan deras kembali turun dalam waktu lama. Peristiwa galodo di Maninjau ini kembali menyoroti pentingnya penataan lingkungan dan sistem pengendalian banjir yang lebih serius. Tanpa langkah jangka panjang, bencana serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan menjadi ancaman bagi keselamatan serta perekonomian warga di kawasan tersebut.(Bud)

