Dari Pramugari Gadungan ke Sorotan Nasional: Kisah Khairun Nisa dan Luka di Balik Seragam
Jakarta - Nama Khairun Nisa (23) atau akrab disapa Nisya, perempuan asal Muara Kuang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, mendadak menjadi perhatian nasional setelah aksinya menyamar sebagai pramugari Batik Air viral pada Januari 2026.
Kasus ini bukan sekadar cerita sensasi, melainkan membuka lapisan persoalan tekanan sosial, mimpi kerja, dan celah sistem di dunia penerbangan. Nisya nekat mengenakan seragam lengkap pramugari, membawa koper berlogo maskapai, serta menggunakan ID card palsu dengan desain lama-yang diketahui sudah tidak dipakai selama kurang lebih 15 tahun. Dengan bermodal tiket resmi sebagai penumpang, ia berhasil melewati pemeriksaan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dan naik pesawat rute Palembang-Jakarta.
Penampilannya membuat petugas mengira ia adalah extra crew. Penyamaran Terbongkar di Udara Kecurigaan muncul setelah kru kabin resmi memperhatikan kejanggalan pada atribut dan gestur Nisya. Pemeriksaan internal mengungkap fakta bahwa identitas yang dibawanya tidak terdaftar dalam sistem awak kabin Batik Air.
Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Nisya langsung diamankan untuk dimintai keterangan. Motif: Malu, Harapan, dan Penipuan Di hadapan petugas, Nisya mengakui motif di balik aksinya. Ia sebelumnya berpamitan kepada keluarga untuk mengikuti seleksi pramugari di Jakarta, namun justru menjadi korban penipuan lowongan kerja.
Rasa malu untuk pulang tanpa hasil membuatnya mengambil jalan nekat-memakai seragam palsu demi menjaga citra di mata keluarga. Dalam pernyataan terbukanya, Nisya menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan manajemen maskapai. Ia menegaskan tidak memiliki niat jahat, apalagi membahayakan penerbangan.
Tanpa Proses Hukum, Tapi Tinggalkan Catatan Serius Pihak Batik Air dan aparat keamanan memutuskan tidak membawa kasus ini ke ranah pidana, lantaran tidak ditemukan unsur terorisme, sabotase, atau kejahatan berat.
Seluruh atribut maskapai disita, dan Nisya dipulangkan ke daerah asal. Namun demikian, insiden ini memunculkan alarm keras soal sistem verifikasi kru penerbangan. Fakta bahwa seseorang bisa lolos hingga masuk kabin dengan seragam palsu menimbulkan pertanyaan besar: seberapa ketat sebenarnya kontrol identitas di bandara?
Lebih dari Sekadar Viral
Kasus Khairun Nisa menjadi potret getir generasi muda yang terjebak antara mimpi, tekanan keluarga, dan realitas keras dunia kerja. Di saat yang sama, ia menyingkap sisi rapuh sistem-bahwa simbol profesi masih bisa disalahgunakan. Seragam pramugari seharusnya melambangkan profesionalisme dan keselamatan.
Ketika ia bisa dipalsukan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi maskapai, tetapi juga rasa aman publik.(Rajo)

