China Tutup Keran Drama Fantasi CEO: Negara Tak Mau Generasi Muda Hidup dalam Ilusi Kekayaan
Beijing - Pemerintah Tiongkok kembali menunjukkan sikap tegas dalam mengendalikan arah industri hiburan nasional. Melalui Administrasi Radio dan Televisi Nasional (NRTA), China resmi memperketat dan membatasi produksi drama pendek bertema "CEO kaya jatuh cinta pada gadis miskin", kebijakan yang mulai diberlakukan sejak Desember 2025 hingga Januari 2026.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah menilai genre tersebut mempromosikan fantasi sosial yang jauh dari realitas, mengagungkan kekayaan dan kekuasaan, serta membentuk harapan palsu di kalangan generasi muda. Dalam pandangan regulator, narasi cinta instan antara elite ekonomi dan rakyat kecil berpotensi merusak cara berpikir, mentalitas, hingga nilai hidup masyarakat. "Konten semacam ini tidak mendidik, sarat hedonisme, dan berisiko melemahkan etos kerja," tegas otoritas penyiaran China dalam pedoman terbarunya.
Fantasi Murahan, Dampak Nyata
Drama pendek atau micro-drama dengan durasi singkat memang menjamur di platform digital China. Namun di balik popularitasnya, negara melihat ada bahaya laten: generasi muda diyakini bisa terjebak pada logika bahwa kesuksesan datang lewat keberuntungan, bukan kerja keras. Pemerintah menilai pola cerita "orang miskin diselamatkan cinta orang kaya" secara sistematis: Mengaburkan realitas sosial Mengglorifikasi kekayaan sebagai tujuan hidup Melemahkan nilai kemandirian dan perjuangan Bagi China, ini bertolak belakang dengan identitas nasional yang selama ini menjunjung disiplin, etika kolektif, dan kerja keras.
Negara Masuk Ruang Kreatif
Kebijakan ini juga menegaskan satu hal: negara tidak akan sepenuhnya menyerahkan ruang budaya pada algoritma dan selera pasar. Industri hiburan diminta beradaptasi, menggeser tema ke arah yang lebih realistis - kisah keluarga, perjuangan hidup, wirausaha, dan dinamika sosial sehari-hari. Judul bombastis, adegan pamer kemewahan, hingga karakter CEO superkuasa kini masuk radar pengawasan ketat.
Platform digital pun diwajibkan melakukan kurasi sebelum tayang. Pro dan Kontra Di satu sisi, kebijakan ini dipuji sebagai upaya melindungi generasi muda dari ilusi sosial. Di sisi lain, muncul kritik soal pembatasan kreativitas.
Namun bagi Beijing, pilihan sudah jelas: hiburan tidak boleh mengorbankan nilai ideologis dan kesehatan mental publik. Sinyal Keras ke Dunia Apa yang dilakukan China menjadi sinyal kuat bahwa konten digital bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen pembentuk pola pikir masyarakat. Negara hadir, bukan hanya sebagai regulator ekonomi, tetapi juga penjaga arah budaya.
China memilih tegas: mimpi boleh, tapi ilusi berbahaya harus dihentikan.(Rajo)

