Sabtu, 21 Februari 2026 Indonesia
Ikuti Kami:

Bisnis yang Bertahan di Kota Padang Menurut Ahli

Bisnis yang Bertahan di Kota Padang Menurut Ahli
CaranoNews

PADANG - Perlambatan ekonomi yang melanda Kota Padang dalam beberapa bulan terakhir berdampak langsung pada aktivitas perdagangan. Sejumlah pasar tradisional terlihat lebih lengang, kios-kios tutup,...

PADANG - Perlambatan ekonomi yang melanda Kota Padang dalam beberapa bulan terakhir berdampak langsung pada aktivitas perdagangan. Sejumlah pasar tradisional terlihat lebih lengang, kios-kios tutup, dan daya beli masyarakat melemah. Namun di tengah kondisi tersebut, para ahli ekonomi menilai masih ada sektor usaha yang relatif mampu bertahan.

Pengamat ekonomi daerah menilai, bisnis yang bergerak di sektor kebutuhan primer menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi masyarakat Padang saat situasi sulit. Usaha kuliner skala kecil hingga menengah, terutama yang mampu beradaptasi dengan pola konsumsi baru, dinilai masih menunjukkan geliat positif. "Bisnis makanan dan minuman tetap berjalan karena masyarakat tetap membutuhkan pangan.

Yang bertahan adalah pelaku usaha yang menyesuaikan diri, seperti menjual porsi ekonomis, memanfaatkan layanan pesan antar, dan aktif di media sosial," ujar seorang akademisi ekonomi dari perguruan tinggi di Sumatera Barat.

Selain kuliner, usaha rumah tangga berbasis pangan juga dinilai cukup resilien. Industri rumahan seperti produksi kue, lauk siap saji, frozen food, dan makanan khas Minang tetap diminati karena harganya lebih terjangkau dan dekat dengan konsumen. Sektor lain yang dinilai relatif aman adalah pertanian dan perikanan.

Padang dan wilayah sekitarnya masih memiliki basis produksi pangan yang kuat. Permintaan pasar lokal terhadap hasil tani dan perikanan cenderung stabil, bahkan menjadi penyangga ekonomi keluarga di tengah melemahnya sektor perdagangan non-pangan. "Pertanian dan perikanan itu sektor dasar.

Saat ekonomi menurun, masyarakat justru kembali mengandalkan sektor ini, baik sebagai produsen maupun konsumen," jelas pengamat tersebut. Sementara itu, pelaku usaha yang mengandalkan digitalisasi dan penjualan daring dinilai memiliki peluang bertahan lebih besar dibanding usaha konvensional murni. Pemanfaatan marketplace, media sosial, dan layanan kurir lokal terbukti membantu menekan biaya operasional dan memperluas jangkauan pasar.

Namun sebaliknya, sektor usaha yang paling terdampak adalah perdagangan non-esensial, seperti fesyen, aksesoris, dan barang tersier. Banyak pedagang di sejumlah pasar tradisional Padang terpaksa menutup kios karena sepi pembeli dan tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan omzet. Pengamat ekonomi mengingatkan bahwa ketahanan bisnis di tengah kondisi sulit sangat bergantung pada kemampuan adaptasi.

Usaha yang kaku, tidak berinovasi, dan bergantung pada pola lama dinilai akan semakin tertekan. "Situasi ini harus menjadi momentum evaluasi. Pelaku usaha perlu mengubah strategi, memperkecil skala bila perlu, dan fokus pada kebutuhan riil masyarakat," tegasnya. Pemerintah daerah pun diharapkan hadir dengan kebijakan yang lebih berpihak pada UMKM, mulai dari kemudahan perizinan, akses pembiayaan, hingga pendampingan usaha berbasis digital agar roda ekonomi Kota Padang tidak semakin melambat.