Padang – Air kecokelatan mengalir pelan namun pasti di lorong-lorong Pasar Bertingkat Pasar Raya Padang. Bau lembap bercampur sampah menusuk hidung. Pedagang hanya bisa menghela napas panjang,...
Padang – Air kecokelatan mengalir pelan namun pasti di lorong-lorong Pasar Bertingkat Pasar Raya Padang. Bau lembap bercampur sampah menusuk hidung. Pedagang hanya bisa menghela napas panjang, sementara pengunjung ragu melangkah masuk.
Beginilah potret Pasar Raya setiap kali hujan deras turun. Hujan sejak Rabu malam hingga Kamis pagi, 24 Desember 2024, kembali membuat Fase I hingga Fase VI Pasar Bertingkat terendam. Genangan air memenuhi lorong utama, memaksa sebagian pedagang mengangkat barang dagangan agar tak rusak.
Ketua Komunitas Pedagang Pasar (KPP), H. Asril Manan, pemilik toko aksesoris Maily Motor, menyebut peristiwa ini sebagai luka lama yang terus dibiarkan terbuka. “Ini bukan kejadian baru. Sejak tahun 2000-an, setiap hujan, pasar selalu kebanjiran.
Tapi sampai hari ini, masalahnya tidak pernah benar-benar diselesaikan,” kata Asril dengan nada kecewa. Drainase Mati, Pasar Jadi Kolam Menurut Asril, sumber masalahnya jelas: saluran air di bagian atas gedung tersumbat, sementara riol di pertengahan Fase I hingga VI sudah tak lagi berfungsi normal. Saat hujan turun, air tak punya jalan keluar. “Riol meluap, air naik ke lorong.
Pasar ini berubah seperti kolam. Yang seharusnya jadi tempat transaksi, malah jadi tempat genangan,” ujarnya. Akibatnya, aktivitas ekonomi lumpuh perlahan.
Pengunjung enggan masuk, pedagang kehilangan pembeli, dan omzet turun drastis. Pedagang Bertahan, Pemerintah Dinilai Abai Para pedagang menilai penanganan dari Dinas Perdagangan Kota Padang selama ini hanya bersifat sementara, tanpa menyentuh akar persoalan. “Kami capek setiap tahun mengeluh, setiap tahun juga kebanjiran.
Kalau begini terus, siapa yang mau belanja ke pasar?” ujar salah seorang pedagang yang ikut menyelamatkan barang dagangannya dari genangan. Desakan Keras ke Wali Kota KPP secara terbuka mendesak Fadli Amran turun langsung ke lapangan. Bukan sekadar menerima laporan, tetapi sidak langsung ke Pasar Bertingkat dan membawa Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar masalah drainase dibenahi secara menyeluruh. “Kami minta Pak Wali Kota serius.
Datang, lihat langsung, rasakan sendiri kondisi pasar saat hujan. Jangan biarkan pedagang terus jadi korban,” tegas Asril. Pasar Rakyat di Ujung Tanduk Jika kondisi ini terus dibiarkan, pedagang khawatir Pasar Raya Padang akan semakin ditinggalkan masyarakat.
Pasar rakyat yang seharusnya menjadi denyut ekonomi kota justru perlahan kehilangan nyawanya. “Kami tidak minta bangunan mewah. Kami hanya ingin pasar yang kering, aman, dan layak. Jangan biarkan Pasar Raya terus ‘menangis’ setiap musim hujan,” tutup Asril.
Bagi pedagang, hujan bukan lagi sekadar cuaca. Ia telah menjadi alarm keras atas pembenahan yang tak kunjung datang. (Rajo)

